Archive for 2012
Tari Barong
Perjalanan studi wisata saya ke Bali bersama
teman-teman saya ,membawa suatu pengalaman yang tak
terlupakan. Terlebih saat saya melihat pertunjukan
tari Barong dan Keris di Puri Anom-Batubulan-
Gianyar. Ada kesan yang tak terlupakan melihat
tarian yang begitu indah, dengan alur cerita yang
sangat menarik. Dari awal sampai akhir
pertunjukan, rasanya mata tak bisa lepas dari
keindahan tarian sampai properti Barong, Rangda,
dan kostum para penari dan pendukung cerita
yang begitu memikat.
Wah... ini baru terasa di Bali.
Tarian Barong menggambarkan pertarungan
antara "kebajikan" melawan "kebatilan". Barong
adalah binatang purbakala yang melukiskan
kebajikan dan Rangda adalah binatang purbakala
yang menggambarkan kebatilan.
Tarian dibuka dengan gending pembukaan yang
indah dari para penabuh yang membuat
penonton seakan terhipnotis masuk ke dalam
tarian ini. Pada saat gending masih
berkumandang, masuklah 3 orang bertopeng
yang menggambarkan 3 orang desa yang
anaknya dimakan oleh harimau. Mereka sangat
marah dan menyerang harimau (Barong)
tersebut.
Babak Pertama
Ditandai dengan munculnya 2 orang penari yang
menggambarkan pengikut Rangda yang sedang
mencari pengikut Dewi Kunti yang sedang dalam
perjalanan untuk menemui Patihnya.
Babak Kedua
Pengikut-pengikut Dewi Kunti tiba. Salah seorang
dari pengikut Rangda berubah rupa menjadi setan
dan memasukkan roh jahat kepada pengikut
Dewi Kunti yang menyebabkan mereka menjadi
marah. Keduanya menemui Patih dan bersama-
sama menghadap Dewi Kunti.
Babak Ketiga
Muncullah Dewi Kunti dan anaknya Sadewa. Dewi
Kunti telah berjanji kepada Rangda untuk
menyerahkan Sadewa sebagai korban.
Sebenarnya Dewi Kunti tidak sampai hati
mengorbankan anaknya, tetapi setan
memasukkan roh jahat kepadanya yang
menyebabkan Dewi Kunti menjadi marah dan
tetap berniat mengorbankan Sadewa.
Dewi Kunti memerintahkan kepada Patihnya
untuk membuang Sadewa ke dalam hutan. Sang
Patih yang juga dirasuki roh jahat membawa
Sadewa ke dalam hutan dan mengikatnya di
depan istana Rangda.
Babak Keempat
Tanpa diketahui oleh Rangda, turunlah Dewa Siwa
dan memberikan keabadian hidup kepada
Sadewa. Rangda datang untuk mengkoyak-koyak
dan membunuh Sadewa. Tetapi karena kekebalan
yang telah diberikan Dewa Siwa, maka Rangda
tidak bisa membunuh Sadewa. Rangda
menyerah kepada Sadewa dan memohon untuk
diselamatkan agar masuk surga. Permohonan ini
dikabulkan oleh Sadewa.
Babak Kelima
Kalika, salah seorang pengikut Rangda
menghadap Sadewa untuk diselamatkan juga,
tetapi permintaannya ditolak oleh Sadewa.
Penolakan ini menimbulkan perkelahian antara
Kalika dan Sadewa. Kalika berubah wujud
menjadi babi hutan dan burung, tetapi tetap bisa
dikalahkan oleh Sadewa.
Karena sudah terdesak, maka Kalika berubah
menjadi Rangda. Karena kesaktian Rangda,
Sadewa tidak mampu membunuhnya. Akhrnya
Sadewa berubah menjadi Barong untuk melawan
Rangda. Tidak ada pemenang dalam perkelahian
antara Barong dan Rangda sehingga pertarungan
antara kebajikan dan kebatilan ini berlangsung
abadi.
Di akhir cerita, muncul para pengikut Barong
yang ingin membantu membunuh Rangda.
Tetapi mereka juga tidak berhasil melumpuhkan
kesaktian sang Rangda.
Penutup cerita ini adalah Tari Keris, yaitu
munculnya para lelaki yang membawa sebilah
keris. Mereka menusuk tubuh mereka sendiri
dengan keris yang mereka bawa. Anehnya, tidak
ada satupun di antara mereka yang terluka.
Akhirnya, ada seorang penari yang (katanya)
kesurupan, menusuk keris ke tubuhnya.
Anehnya, keris tersebut tidak melukai sang
penari, malahan keris tersebut jadi bengkok.
Ihh.... agak serem juga sih.
Sebuah tarian dan cerita yang sangat indah...
Bali memang mengagumkan....
teman-teman saya ,membawa suatu pengalaman yang tak
terlupakan. Terlebih saat saya melihat pertunjukan
tari Barong dan Keris di Puri Anom-Batubulan-
Gianyar. Ada kesan yang tak terlupakan melihat
tarian yang begitu indah, dengan alur cerita yang
sangat menarik. Dari awal sampai akhir
pertunjukan, rasanya mata tak bisa lepas dari
keindahan tarian sampai properti Barong, Rangda,
dan kostum para penari dan pendukung cerita
yang begitu memikat.
Wah... ini baru terasa di Bali.
Tarian Barong menggambarkan pertarungan
antara "kebajikan" melawan "kebatilan". Barong
adalah binatang purbakala yang melukiskan
kebajikan dan Rangda adalah binatang purbakala
yang menggambarkan kebatilan.
Tarian dibuka dengan gending pembukaan yang
indah dari para penabuh yang membuat
penonton seakan terhipnotis masuk ke dalam
tarian ini. Pada saat gending masih
berkumandang, masuklah 3 orang bertopeng
yang menggambarkan 3 orang desa yang
anaknya dimakan oleh harimau. Mereka sangat
marah dan menyerang harimau (Barong)
tersebut.
Babak Pertama
Ditandai dengan munculnya 2 orang penari yang
menggambarkan pengikut Rangda yang sedang
mencari pengikut Dewi Kunti yang sedang dalam
perjalanan untuk menemui Patihnya.
Babak Kedua
Pengikut-pengikut Dewi Kunti tiba. Salah seorang
dari pengikut Rangda berubah rupa menjadi setan
dan memasukkan roh jahat kepada pengikut
Dewi Kunti yang menyebabkan mereka menjadi
marah. Keduanya menemui Patih dan bersama-
sama menghadap Dewi Kunti.
Babak Ketiga
Muncullah Dewi Kunti dan anaknya Sadewa. Dewi
Kunti telah berjanji kepada Rangda untuk
menyerahkan Sadewa sebagai korban.
Sebenarnya Dewi Kunti tidak sampai hati
mengorbankan anaknya, tetapi setan
memasukkan roh jahat kepadanya yang
menyebabkan Dewi Kunti menjadi marah dan
tetap berniat mengorbankan Sadewa.
Dewi Kunti memerintahkan kepada Patihnya
untuk membuang Sadewa ke dalam hutan. Sang
Patih yang juga dirasuki roh jahat membawa
Sadewa ke dalam hutan dan mengikatnya di
depan istana Rangda.
Babak Keempat
Tanpa diketahui oleh Rangda, turunlah Dewa Siwa
dan memberikan keabadian hidup kepada
Sadewa. Rangda datang untuk mengkoyak-koyak
dan membunuh Sadewa. Tetapi karena kekebalan
yang telah diberikan Dewa Siwa, maka Rangda
tidak bisa membunuh Sadewa. Rangda
menyerah kepada Sadewa dan memohon untuk
diselamatkan agar masuk surga. Permohonan ini
dikabulkan oleh Sadewa.
Babak Kelima
Kalika, salah seorang pengikut Rangda
menghadap Sadewa untuk diselamatkan juga,
tetapi permintaannya ditolak oleh Sadewa.
Penolakan ini menimbulkan perkelahian antara
Kalika dan Sadewa. Kalika berubah wujud
menjadi babi hutan dan burung, tetapi tetap bisa
dikalahkan oleh Sadewa.
Karena sudah terdesak, maka Kalika berubah
menjadi Rangda. Karena kesaktian Rangda,
Sadewa tidak mampu membunuhnya. Akhrnya
Sadewa berubah menjadi Barong untuk melawan
Rangda. Tidak ada pemenang dalam perkelahian
antara Barong dan Rangda sehingga pertarungan
antara kebajikan dan kebatilan ini berlangsung
abadi.
Di akhir cerita, muncul para pengikut Barong
yang ingin membantu membunuh Rangda.
Tetapi mereka juga tidak berhasil melumpuhkan
kesaktian sang Rangda.
Penutup cerita ini adalah Tari Keris, yaitu
munculnya para lelaki yang membawa sebilah
keris. Mereka menusuk tubuh mereka sendiri
dengan keris yang mereka bawa. Anehnya, tidak
ada satupun di antara mereka yang terluka.
Akhirnya, ada seorang penari yang (katanya)
kesurupan, menusuk keris ke tubuhnya.
Anehnya, keris tersebut tidak melukai sang
penari, malahan keris tersebut jadi bengkok.
Ihh.... agak serem juga sih.
Sebuah tarian dan cerita yang sangat indah...
Bali memang mengagumkan....
